Berikut ini adalah tips dan trik maintenance secara cepat
dan mudah. Tips ini akan membantu memudahkan anda bekerja dan dapat
mempengaruhi kinerja komputer anda meskipun tidak begitu besar.
1. Daripada bersusah payah membersihkan sampah di Windows, atur agar
Windows membersihkan dirinya sendiri secara berkala dengan Schedule
Task. Untuk mengatur jadwal perawatan Windows secara berkala, buka
Control Panel, klik ganda Scheduled Tasks. Tambahkan Scheduled Task
melalui wizard. Klik Next untuk masuk dalam berisi program yang bisa
dijadwalkan. Jika tool yang hendak Anda jadwalkan tidak tertera pada
list, klik Browse dan arahkan ke folder tempat tool yang Anda maksud
berada.
Kebanyakan tool Windows berada dalam folder Windows\system32. Pilih
salah satu dan klik Open. Ketik nama task tersebut dan tentukan tingkat
keseringan atau frekuensi jadwal program tersebut. Klik Next, atur
setting lain yang diperlukan dan tambahkan username beserta password
untuk mengamankan Schedule Task.
2. Gunakan utility gratis PowerToys dari
www.microsoft.com/windowsxp/home/downloads/powertoys.asp yang sangat
berguna. PowerToys sendiri terdiri dari beberapa program, di antaranya
Open Command Window Here, Alt-Tab Replacement, Tweak UI, Power
Calculator, Image Resizer, CD Slide Show Generator, Virtual Desktop
Manager,Taskbar Magnifier, HTML Slide Show Wizard, dan Webcam Timershot.
3. Windows Anda bisa memperoleh tambahan kecepatan jika Indexing
Service dinonaktifkan. Caranya mudah, buka Administrative Tools di
Control Panel, pilih Services dan disable Indexing Service.
4. Kembangkan kapasitas harddisk dengan menggunakan Disk Cleanup.
Buka My Computer, klik kanan drive yang ada dan pilih Properties. Buka
tab General dan klik tombol Disk Cleanup. Bersihkan semua file sampah
tersebut, termasuk mengosongkan isi Recycle Bin dari semua data yang
sudah tidak digunakan lagi.
5. Hilangkan semua shortcut di folder Startup dalam Start Menu.
Sebab, program yang memiliki shortcut dalam folder ini secara otomatis
akan dieksekusi saat kali pertama Windows dijalankan.
6. Periksa setting messenger yang ada dalam komputer Anda, karena
hampir setiap messenger akan me-load dirinya sendiri secara otomatis
setiap kali Windows dijalankan. Usahakan agar option Automatically Login
atau Load at Windows Start tidak aktif.
7. Anda bisa mengakses setiap program secara langsung dengan
mengetikkan nama programnya di kotak dialog Run. Misalnya calc untuk
kalkulator, winword untuk Microsoft Word, dan lain sebagainya.
Rabu, 11 Juli 2012
Petrofisika
Petrofisika adalah suatu
cabang ilmu dari geofisika yang mempelajari tentang sifat fisik dari suatu batuan.
Nah tugas dari Petrofisik itu sendiri dia menafsirkan semua data yang diperoleh
sampai dengan tahap pengeboran hanya untuk menentukan apa yang ada dalam
perangkap. Apa sih perangkap itu ? Perangkap umumnya dibentuk dengan bentuk
anti-clinal atau kubah yaitu hidrokarbon yang terakumulasi di bawah suatu
bentuk “mangkuk terbalik”. Kita tahu
bahwa minyak bumi dan gas lebih ringan daripada air, jadi mereka mengapung di
atasnya, batuan bawah tanah mayoritas berisi air, ketika hidrokarbon yang
dihasilkan dari bahan organik yang terkubur mencoba bergerak ke atas mengapung
di atas kita. Nah ketika hidrokarbon meningkat dan terhalang karena tak ada
jalan melalui batuan itu dan hidrokarbon tidak bisa naik lagi, maka hidrokarbon
tersebut menumpuk di bawah caprock”. Nah kondisinya terperangkap, jadi data
data yang ada disini ditafsirkan oleh para ahli petrofisik. Karena petrofisik disini lebih
mengarah pada penafsiran sifat fisik batuan tersebut, alangkah baiknya kita
mengetahui beberapa sifat fisik batuan tersebut adalah :
1.
Porositas
2.
Permeabilitas
3.
Saturasi
4.
Wettabilitas
5.
Tekanan Kapiler
6.
Resistivitas batuan.
Mempelajari karakteristik fisik
suatu batuan sangat penting karena kita akan lebih mengenal batuan yang akan
kita amati tersebut. Di industri oil & gas misalnya, sifat fisik batuan
sangat penting dipelajari mengetahui karakter reservoar (batuan tempat
menyimpan hidrokarbon) sebagai batuan yang layak untuk dilakukan pengeboran
ataupun perforasi (produksi) lebih lanjut. Nah mulai dari yang pertama, apasih
porositas itu ?
1. Porositas adalah perbandingan antara volume pori-pori
dengan volume total batuan. Pori-pori secara primer adalah matrix pore, dan
secara sekunder adalah rekahan/fracture, rongga/vug, dan lain-lain. Pada umumnya,
porositas yang terukur, baik secara analisis laboratorium, maupun dengan log
adalah porositas efektif. Hal ini, seperti disebut di atas, karena adanya
isolated pore yang tidak berpengaruh terhadap produktivitas reservoir. Lambang
porositas adalah Φ. Karena merupakan perbandingan, maka porositas tidak
memiliki satuan.
Fungsi Porositas
1. Menentukan OOIP (original oil in place).
2. Menentukan probable recovery / recovery factor.
3. Mengambil keputusan apakah minyak yang terdapat pada reservoir tersebut layak diproduksi atau tidak dilihat dari segi ekonomi.
4. Mengetahui posisi kedalaman reservoir.
5. Menentukan jenis batuan.
6. Menentukan kemungkinan susunan butir pada batuan reservoir.
7. Menentukan besar permeabilitas pada pori-pori batuan.
8. Menentukan cadangan potensial dari suatu reservoir minyak/gas.
9. Menentukan selang waktu untuk perforasi atau acidizing.
Didapatkan rentang rentang besar
porositas
2. Permeabilitas
Permeabilitas merupakan besaran
yang digunakan untuk menunjukkan seberapa besar kemampuan suatu batuan untuk
mengalirkan fluida yang terkandung didalamnya. Permeabilitas merupakan property
suatu batuan berpori dan merupakan besaran yang menunjukkan kapasitas medium
dalam mengalirkan fluida.
Jenis-jenis Permeabilitas.
1. Permeabilitas absolut (ka).
Yaitu pengukuran pada medium berpori untuk fluida satu fasa ketika medium
tersebut dialiri oleh satu jenis fluida, dimana saturasi fluida yang mengalir
bernilai 1.
2. Permeabilitas efektif (k).
Yaitu pengukuran pada medium berpori untuk fluida satu fasa ketika medium
tersebut dialiri oleh lebih dari satu jenis fluida.
3. Permeabilitas relatif (kr).
Yaitu perbandingan antara permeabilitas efektif fluida pada nilai saturasi
tertentu, terhadap permeabilitas absolut pada saturasi 100%.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Permeabilitas.
1. Distribusi ukuran butir.
Semakin menyudut geometri butiran, maka permeabilitasnya semakin kecil.
4. Jaringan antar pori (pore network).
Semakin bagus jaringan antar pori, maka permeabilitasnya semakin besar.
5. Sementasi.
Semakin banyak semen dalam suatu batuan, maka harga permeabilitas akan semakin kecil.
6. Clays content.
Semakin banyak mengandung clay, maka semakin kecil permeabilitas batuan tersebut.
1. Distribusi ukuran butir.
Ukuran butiran yang semakin beragam dalam suatu batuan, maka pori-pori akan
semakin kecil dan permeabilitas juga akan semakin kecil.
2. Susunan (packing) butiran.
Susunan butiran yang semakin rapi, maka makin besar harga permeabilitasnya.
3. Geometri butiran.Semakin menyudut geometri butiran, maka permeabilitasnya semakin kecil.
4. Jaringan antar pori (pore network).
Semakin bagus jaringan antar pori, maka permeabilitasnya semakin besar.
5. Sementasi.
Semakin banyak semen dalam suatu batuan, maka harga permeabilitas akan semakin kecil.
6. Clays content.
Semakin banyak mengandung clay, maka semakin kecil permeabilitas batuan tersebut.
3. Saturasi
Saturasi adalah perbandingan
kuantitas (volume) suatu fluida dengan pori-pori batuan tempat fluida tersebut
berada. Misalnya, saturasi air dalam suatu source rock adalah besarnya volume
air dibanding volume total pori-pori batuan tersebut. (Catatan: Pada umumnya
saturasi dihitung berdasarkan volume pori-pori efektif. Hal ini karena adanya
isolated pore yang tidak berpengaruh pada produktivitas reservoir.) Sehingga,
dapat dikatakan bahwa saturasi adalah berapa persen bagian dari suatu pori yang
terisi fluida. Karena saturasi merupakan perbandingan/persentase, maka secara
matematis saturasi tidak memiliki satuan. Saturasi dilambangkan dengan Sw untuk
air, So untuk minyak, dan Sg untuk gas. Karena tidak mungkin ada pori-pori yang
kosong oleh fluida (vakum) maka Sw+So+Sg=1. Secara umum ada 2 cara untuk
menentukan saturasi, yaitu dengan analisis laboratorium atas sampel core dari
reservoir, dan dengan log. Secara matematis dapat ditulis =
Volume fluida / volume rongga, terminologi nya :
·
Bulk Volume Moveable BVM = fraksi rongga batuan
yang ditempati oleh
fluida yang bisa mengalir
fluida yang bisa mengalir
·
Bulk Volume Irreducible BVI = fraksi rongga
batuan yang ditempati
oleh air terikat gaya kapiler
oleh air terikat gaya kapiler
·
Clay Bound Water CBW = air yang terikat secara
elektrostatis di
permukaan butiran mineral lempung
permukaan butiran mineral lempung
4. Wettabilitas
Wettabilitas didefinisikan sebagai
suatu kecenderungan dari adanya fluida lain yang tidak saling mencampur.
Apabila dua fluida bersinggungan dengan benda padat, maka salah satu fluida
akan bersifat membasahi permukaan benda padat tersebut, hal ini disebabkan
adanya gaya adhesi. Dalam system minyak-air, benda padat. Suatu cairan yang
dikatakan membasahi zat padat jika tegangan adhesinya positif (q <> 90o),
berarti batuan bersifat oil wet. Pada umumnya, reservoir bersifat water wet,
sehingga air cenderung untuk melekat pada permukaan batuan, sedangkan minyak
akan terletak diantara fasa air.
Metode Monte Carlo
Metode Monte Carlo adalah algoritma komputasi untuk mensimulasikan berbagai perilaku sistem fisika dan matematika. Penggunaan klasik metode ini adalah untuk mengevaluasi integral definit, terutama integral multidimensi dengan syarat dan batasan yang rumit.
Metode Monte Carlo sangat penting dalam fisika komputasi dan bidang terapan lainnya, dan memiliki aplikasi yang beragam mulai dari perhitungan kromodinamika kuantum esoterik hingga perancangan aerodinamika. Metode ini terbukti efisien dalam memecahkan persamaan diferensial integral medan radians, sehingga metode ini digunakan dalam perhitungan iluminasi global yang menghasilkan gambar-gambar fotorealistik model tiga dimensi, dimana diterapkan dalam video games, arsitektur, perancangan, film yang dihasilkan oleh komputer, efek-efek khusus dalam film, bisnis, ekonomi, dan bidang lainnya.
Karena algoritma ini memerlukan pengulangan (repetisi) dan perhitungan yang amat kompleks, metode Monte Carlo pada umumnya dilakukan menggunakan komputer, dan memakai berbagai teknik simulasi komputer.
Algoritma Monte Carlo adalah metode Monte Carlo numerik yang digunakan untuk menemukan solusi problem matematis (yang dapat terdiri dari banyak variabel) yang susah dipecahkan, misalnya dengan kalkulus integral, atau metode numerik lainnya.
Penggunaannya yang cukup dikenal adalah oleh Enrico Fermi pada tahun 1930, ketika ia menggunakan metode acak untuk menghitung sifat-sifat neutron yang waktu itu baru saja ditemukan. Metode Monte Carlo merupakan simulasi inti yang digunakan dalam Manhattan Project, meski waktu itu masih menggunakan oleh peralatan komputasi yang sangat sederhana. Sejak digunakannya komputer elektronik pada tahun 1945, Monte Carlo mulai dipelajari secara mendalam. Pada tahun 1950-an, metode ini digunakan di Laboratorium Nasional Los Alamos untuk penelitian awal pengembangan bom hidrogen, dan kemudian sangat populer dalam bidang fisika dan riset operasi. Rand Corporation]]an Angkatan Udara AS merupakan dua institusi utama yang bertanggung jawab dalam pendanaan dan penyebaran informasi mengenai Monte Carlo waktu itu, dan mereka mulai menemukan aplikasinya dalam berbagai bidang.
Penggunaan metode Monte Carlo memerlukan sejumlah besar bilangan acak, dan hal tersebut semakin mudah dengan perkembangan pembangkit bilangan pseudoacak, yang jauh lebih cepat dan praktis dibandingkan dengan metode sebelumnya yang menggunakan tabel bilangan acak untuk sampling statistik.
Metode Monte Carlo sangat penting dalam fisika komputasi dan bidang terapan lainnya, dan memiliki aplikasi yang beragam mulai dari perhitungan kromodinamika kuantum esoterik hingga perancangan aerodinamika. Metode ini terbukti efisien dalam memecahkan persamaan diferensial integral medan radians, sehingga metode ini digunakan dalam perhitungan iluminasi global yang menghasilkan gambar-gambar fotorealistik model tiga dimensi, dimana diterapkan dalam video games, arsitektur, perancangan, film yang dihasilkan oleh komputer, efek-efek khusus dalam film, bisnis, ekonomi, dan bidang lainnya.
Karena algoritma ini memerlukan pengulangan (repetisi) dan perhitungan yang amat kompleks, metode Monte Carlo pada umumnya dilakukan menggunakan komputer, dan memakai berbagai teknik simulasi komputer.
Algoritma Monte Carlo adalah metode Monte Carlo numerik yang digunakan untuk menemukan solusi problem matematis (yang dapat terdiri dari banyak variabel) yang susah dipecahkan, misalnya dengan kalkulus integral, atau metode numerik lainnya.
Sejarah
Metode Monte Carlo digunakan dengan istilah sampling statistik. Penggunaan nama Monte Carlo, yang dipopulerkan oleh para pioner bidang tersebut (termasuk Stanislaw Marcin Ulam, Enrico Fermi, John von Neumann dan Nicholas Metropolis), merupakan nama kasino terkemuka di Monako. Penggunaan keacakan dan sifat pengulangan proses mirip dengan aktivitas yang dilakukan pada sebuah kasino. Dalam autobiografinya Adventures of a Mathematician, Stanislaw Marcin Ulam menyatakan bahwa metode tersebut dinamakan untuk menghormati pamannya yang seorang penjudi, atas saran Metropolis.Penggunaannya yang cukup dikenal adalah oleh Enrico Fermi pada tahun 1930, ketika ia menggunakan metode acak untuk menghitung sifat-sifat neutron yang waktu itu baru saja ditemukan. Metode Monte Carlo merupakan simulasi inti yang digunakan dalam Manhattan Project, meski waktu itu masih menggunakan oleh peralatan komputasi yang sangat sederhana. Sejak digunakannya komputer elektronik pada tahun 1945, Monte Carlo mulai dipelajari secara mendalam. Pada tahun 1950-an, metode ini digunakan di Laboratorium Nasional Los Alamos untuk penelitian awal pengembangan bom hidrogen, dan kemudian sangat populer dalam bidang fisika dan riset operasi. Rand Corporation]]an Angkatan Udara AS merupakan dua institusi utama yang bertanggung jawab dalam pendanaan dan penyebaran informasi mengenai Monte Carlo waktu itu, dan mereka mulai menemukan aplikasinya dalam berbagai bidang.
Penggunaan metode Monte Carlo memerlukan sejumlah besar bilangan acak, dan hal tersebut semakin mudah dengan perkembangan pembangkit bilangan pseudoacak, yang jauh lebih cepat dan praktis dibandingkan dengan metode sebelumnya yang menggunakan tabel bilangan acak untuk sampling statistik.
Aplikasi metode Monte Carlo
- Grafis, terutama untuk ray tracing
- Permodelan transportasi ringan dalam jaringan multi lapis / multi-layered tissues (MCML)
- Metode Monte Carlo dalam bidang finansial
- Simulasi prediksi struktur protein
- Dalam riset peralatan semikonduktor, untuk memodelkan transportasi pembawa arus
- Pemetaan genetik yang melibatkan ratusan penanda genetik dan analisis QTL
Referensi
- Bernd A. Berg, Markov Chain Monte Carlo Simulations and Their Statistical Analysis (With Web-Based Fortran Code), World Scientific 2004, ISBN 981-238-935-0.
- P. Kevin MacKeown, Stochastic Simulation in Physics, 1997, ISBN 981-3083-26-3
- Harvey Gould & Jan Tobochnik, An Introduction to Computer Simulation Methods, Part 2, Applications to Physical Systems, 1988, ISBN 0-201-16504-X
- C.P. Robert and G. Casella. "Monte Carlo Statistical Methods" (second edition). New York: Springer-Verlag, 2004, ISBN 0-387-21239-6
- Pembuat paket komersial yang mengimplementasikan algoritma Monte Carlo algorithms, Palisade Corporation (@Risk), Decisioneering (Crystal Ball) dan Vanguard Software (DecisionPro)
- Mosegaard, Klaus., and Tarantola, Albert, 1995. Monte Carlo sampling of solutions to inverse problems. J. Geophys. Res., 100, B7, 12431-12447.
- Tarantola, Albert, Inverse Problem Theory (versi PDF bebas), Society for Industrial and Applied Mathematics, 2005. ISBN 0-89871-572-5
Desalinasi Air Laut
Desalinasi Memanfaatkan Air Laut
untuk Minum
Desalinasi
untuk memanfaatkan air laut sebagai air minum,
kenapa tidak?. Desalinasi (desalinization) merupakan untuk menghilangkan
kadar garam berlebih pada air untuk menghasilkan air yang dapat dikonsumsi
manusia, hewan ataupun tumbuhan.
Dalam
desalinasi selain menghasilkan air yang layak minum, proses ini dapat juga
menghasilkan garam dapur ataupun air berkadar garam tinggi yang dapat
dimanfaatkan sebagai kolam apung sebagai mana salah satu wahana di Taman Impian
Jaya Ancol.
Solusi
Krisis Air Bersih. Desalinasi yang memproses air laut
dengan tingkat kadar garam yang tinggi sehingga tidak layak konsumsi menjadi
air tawar yang dapat dikonsumsi merupakan salah satu alternatif mengatasi
krisis ketersediaan air bersih yang sering kali terjadi di Indonesia.
Lingkungan Pengendapan Batubara
Batubara merupakan hasil dari akumulasi
tumbuh-tumbuhan pada kondisi lingkungan pengendapan tertentu. Akumulasi
tersebut telah dikenai pengaruh-pengaruh synsedimentary dan post-sedimentary. Akibat pengaruh-pengaruh tersebut dihasilkanlah batubara dengan tingkat (rank) dan kerumitan struktur yang bervariasi.
Lingkungan pengendapan batubara dapat mengontrol penyebaran lateral, ketebalan, komposisi, dan kualitas batubara. Untuk pembentukan suatu endapan yag berarti diperlukan suatu susunan pengendapan dimana terjadi produktifitas organik tinggi dan penimbunan secara perlahan-lahan namun terus menerus terjadi dalam kondisi reduksi tinggi dimana terdapat sirukulasi air yang cepat sehingga oksigen tidak ada dan zat organik dapat terawetkan. Kondisi demikian dapat terjadi diantaranya di lingkungan paralik (pantai) dan limnik (rawa-rawa).
Menurut Diessel (1984, op cit Susilawati ,1992) lebih dari 90% batubara di dunia terbentuk di lingkungan paralik yaitu rawa-rawa yang berdekatan dengan pantai. Daerah seperti ini dapat dijumpai di dataran pantai, lagunal, deltaik, atau juga fluviatil.
Diessel (1992) mengemukakan terdapat 6 lingkungan pengendapan utama pembentuk batubara (Tabel 1) yaitu gravelly braid plain, sandy braid plain, alluvial valley and upper delta plain, lower delta plain, backbarrier strand plain, dan estuary. Tiap lingkungan pengendapan mempunyai asosiasi dan menghasilkan karakter batubara yang berbeda.
Proses pengendapan batubara pada umunya berasosiasi dengan lingkungan fluvial flood plain dan delta plain. Akumulasi dari endapan sungai (fluvial) di daerah pantai akan membentuk delta dengan mekanisme pengendapan progradasi (Allen & Chambers, 1998).
Lingkungan delta plain merupakan bagian dari kompleks pengendapan delta yang terletak di atas permukaan laut (subaerial). Fasies-fasies yang berkembang di lingkungan delta plain ialah endapan channel, levee, crevase, splay, flood plain, dan swamp. Masing-masing endapan tersebut dapat diketahui dari litologi dan struktur sedimen.
Endapan channel dicirikan oleh batupasir dengan struktur sedimen cross bedding, graded bedding, paralel lamination, dan cross lamination yang berupa laminasi karbonan. Kontak di bagian bawah berupa kontak erosional dan terdapat bagian deposit yang berupa fragmen-fragmen batubara dan plagioklas. Secara lateral endapan channel akan berubah secara berangsur menjadi endapan flood plain. Di antara channel dengan flood plain terdapat tanggul alam (natural levee) yang terbentuk ketika muatan sedimen melimpah dari channel. Endapan levee yang dicirikan oleh laminasi batupasir halus dan batulanau dengan struktur sedimen ripple lamination dan paralel lamination.
Pada saat terjadi banjir, channel utama akan memotong natural levee dan membentuk crevase play. Endapan crevase play dicirikan oleh batupasir halus – sedang dengan struktur sedimen cross bedding, ripple lamination, dan bioturbasi. Laminasi batupasir, batulanau, dan batulempung juga umum ditemukan. Ukuran butir berkurang semakin jauh dari channel utamanya dan umumnya memperlihatkan pola mengasar ke atas.
Endapan crevase play berubah secara berangsur ke arah lateral menjadi endapan flood plain. Endapan flood plain merupakan sedimen klastik halus yang diendapkan secara suspensi dari air limpahan banjir. Endapan flood plain dicirikan oleh batulanau, batulempung, dan batubara berlapis.
Endapan swamp merupakan jenis endapan yang paling banyak membawa batubara karena lingkungan pengendapannya yang terendam oleh air dimana lingkungan seperti ini sangat cocok untuk akumulasi gambut.
Tumbuhan pada sub-lingkungan upper delta plain akan didominasi oleh pohon-pohon keras dan akan menghasilkan batubara yang blocky. Sedangkan tumbuhan pada lower delta plai didominasi oleh tumbuhan nipah-nipah pohon yang menghasilkan batubara berlapis (Allen, 1985).
Lingkungan pengendapan batubara dapat mengontrol penyebaran lateral, ketebalan, komposisi, dan kualitas batubara. Untuk pembentukan suatu endapan yag berarti diperlukan suatu susunan pengendapan dimana terjadi produktifitas organik tinggi dan penimbunan secara perlahan-lahan namun terus menerus terjadi dalam kondisi reduksi tinggi dimana terdapat sirukulasi air yang cepat sehingga oksigen tidak ada dan zat organik dapat terawetkan. Kondisi demikian dapat terjadi diantaranya di lingkungan paralik (pantai) dan limnik (rawa-rawa).
Menurut Diessel (1984, op cit Susilawati ,1992) lebih dari 90% batubara di dunia terbentuk di lingkungan paralik yaitu rawa-rawa yang berdekatan dengan pantai. Daerah seperti ini dapat dijumpai di dataran pantai, lagunal, deltaik, atau juga fluviatil.
Diessel (1992) mengemukakan terdapat 6 lingkungan pengendapan utama pembentuk batubara (Tabel 1) yaitu gravelly braid plain, sandy braid plain, alluvial valley and upper delta plain, lower delta plain, backbarrier strand plain, dan estuary. Tiap lingkungan pengendapan mempunyai asosiasi dan menghasilkan karakter batubara yang berbeda.
Tabel 1
Lingkungan Pengendapan Pembentuk Batubara
(Diesel, 1992)
| Environment | Subenvironment | Coal Characteristics |
| Gravelly braid plain | Bars, channel, overbank plains, swamps, raised bogs | mainly dull coals, medium to low TPI, low GI, low sulphur |
| Sandy braid plain | Bars, channel, overbank plains, swamp, raised bogs, | mainly dull coals, medium to high TPI, low to medium GI, low sulphur |
| Alluvial valley and upper delta plain | channels, point bars, floodplains and basins, swamp, fens, raised bogs | mainly bright coals, high TPI, medium to high GI, low sulphur |
| Lower delta plain | Delta front, mouth bar, splays, channel, swamps, fans and marshes | mainly bright coals, low to medium TPI, high to very high GI, high sulphur |
| Backbarrier strand plain | Off-, near-, and backshore, tidal inlets, lagoons, fens, swamp, and marshes | transgressive : mainly bright coals, medium TPI, high GI, high sulphur regressive : mainly dull coals, low TPI and GI, low sulphur |
| Estuary | channels, tidal flats, fens and marshes | mainly bright coal with high GI and medium TPI |
Proses pengendapan batubara pada umunya berasosiasi dengan lingkungan fluvial flood plain dan delta plain. Akumulasi dari endapan sungai (fluvial) di daerah pantai akan membentuk delta dengan mekanisme pengendapan progradasi (Allen & Chambers, 1998).
Lingkungan delta plain merupakan bagian dari kompleks pengendapan delta yang terletak di atas permukaan laut (subaerial). Fasies-fasies yang berkembang di lingkungan delta plain ialah endapan channel, levee, crevase, splay, flood plain, dan swamp. Masing-masing endapan tersebut dapat diketahui dari litologi dan struktur sedimen.
Endapan channel dicirikan oleh batupasir dengan struktur sedimen cross bedding, graded bedding, paralel lamination, dan cross lamination yang berupa laminasi karbonan. Kontak di bagian bawah berupa kontak erosional dan terdapat bagian deposit yang berupa fragmen-fragmen batubara dan plagioklas. Secara lateral endapan channel akan berubah secara berangsur menjadi endapan flood plain. Di antara channel dengan flood plain terdapat tanggul alam (natural levee) yang terbentuk ketika muatan sedimen melimpah dari channel. Endapan levee yang dicirikan oleh laminasi batupasir halus dan batulanau dengan struktur sedimen ripple lamination dan paralel lamination.
Pada saat terjadi banjir, channel utama akan memotong natural levee dan membentuk crevase play. Endapan crevase play dicirikan oleh batupasir halus – sedang dengan struktur sedimen cross bedding, ripple lamination, dan bioturbasi. Laminasi batupasir, batulanau, dan batulempung juga umum ditemukan. Ukuran butir berkurang semakin jauh dari channel utamanya dan umumnya memperlihatkan pola mengasar ke atas.
Endapan crevase play berubah secara berangsur ke arah lateral menjadi endapan flood plain. Endapan flood plain merupakan sedimen klastik halus yang diendapkan secara suspensi dari air limpahan banjir. Endapan flood plain dicirikan oleh batulanau, batulempung, dan batubara berlapis.
Endapan swamp merupakan jenis endapan yang paling banyak membawa batubara karena lingkungan pengendapannya yang terendam oleh air dimana lingkungan seperti ini sangat cocok untuk akumulasi gambut.
Tumbuhan pada sub-lingkungan upper delta plain akan didominasi oleh pohon-pohon keras dan akan menghasilkan batubara yang blocky. Sedangkan tumbuhan pada lower delta plai didominasi oleh tumbuhan nipah-nipah pohon yang menghasilkan batubara berlapis (Allen, 1985).
Sumber Daya Dan Cadangan Batubara
Sumber daya batubara (Coal Resources) adalah bagian dari
endapan batubara yang diharapkan dapat dimanfaatkan. Sumber daya batu
bara ini dibagi dalam kelas-kelas sumber daya berdasarkan tingkat
keyakinan geologi yang ditentukan secara kualitatif oleh kondisi
geologi/tingkat kompleksitas dan secara kuantitatif oleh jarak titik
informasi. Sumberdaya ini dapat meningkat menjadi cadangan apabila
setelah dilakukan kajian kelayakan dinyatakan layak.
Cadangan batubara (Coal Reserves) adalah bagian dari sumber daya batubara yang telah diketahui dimensi, sebaran kuantitas, dan kualitasnya, yang pada saat pengkajian kelayakan dinyatakan layak untuk ditambang.
Klasifikasi sumber daya dan cadangan batubara didasarkan pada tingkat keyakinan geologi dan kajian kelayakan. Pengelompokan tersebut mengandung dua aspek, yaitu aspek geologi dan aspek ekonomi.
Kelas Sumber Daya
1. Sumber Daya Batubara Hipotetik (Hypothetical Coal Resource)
Sumber daya batu bara hipotetik adalah batu bara di daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap penyelidikan survei tinjau.
Sejumlah kelas sumber daya yang belum ditemukan yang sama dengan cadangan batubara yg diharapkan mungkin ada di daerah atau wilayah batubara yang sama dibawah kondisi geologi atau perluasan dari sumberdaya batubara tereka. Pada umumnya, sumberdaya berada pada daerah dimana titik-titik sampling dan pengukuran serat bukti untuk ketebalan dan keberadaan batubara diambil dari distant outcrops, pertambangan, lubang-lubang galian, serta sumur-sumur. Jika eksplorasi menyatakan bahwa kebenaran dari hipotesis sumberdaya dan mengungkapkan informasi yg cukup tentang kualitasnya, jumlah serta rank, maka mereka akan di klasifikasikan kembali sebagai sumber daya teridentifikasi (identified resources).
2. Sumber Daya Batubara Tereka (inferred Coal Resource)
Sumber daya batu bara tereka adalah jumlah batu bara di daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap penyelidikan prospeksi.
Titik pengamatan mempunyai jarak yang cukup jauh sehingga penilaian dari sumber daya tidak dapat diandalkan. Daerah sumber daya ini ditentukan dari proyeksi ketebalan dan tanah penutup, rank, dan kualitas data dari titik pengukuran dan sampling berdasarkan bukti geologi dalam daerah antara 1,2 km – 4,8 km. termasuk antrasit dan bituminus dengan ketebalan 35 cm atau lebih, sub bituminus dengan ketebalan 75 cm atau lebih, lignit dengan ketebalan 150 cm atau lebih.
3. Sumber Daya Batubara Tertunjuk (Indicated Coal Resource)
Sumber daya batu bara tertunjuk adalah jumlah batu bara di daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap eksplorasi pendahuluan.
Densitas dan kualitas titik pengamatan cukup untuk melakukan penafsiran secara relistik dari ketebalan, kualitas, kedalaman, dan jumlah insitu batubara dan dengan alasan sumber daya yang ditafsir tidak akan mempunyai variasi yang cukup besar jika eksplorasi yang lebih detail dilakukan. Daerah sumber daya ini ditentukan dari proyeksi ketebalan dan tanah penutup, rank, dan kualitas data dari titik pengukuran dan sampling berdasarkan bukti gteologi dalam daerah antara 0,4 km – 1,2 km. termasuk antrasit dan bituminus dengan ketebalan 35 cm atau lebih, sib bituminus dengan ketebalan 75 cm atau lebih, lignit dengan ketebalan 150 cm.
4. Sumber Daya Batubara Terukur (Measured Coal Resourced)
Sumber daya batu bara terukur adalah jumlah batu bara di daerah peyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat–syarat yang ditetapkan untuk tahap eksplorasi rinci.
Densitas dan kualitas titik pengamatan cukup untuk diandalkan untuk melakukan penafsiran ketebalan batubara, kualitas, kedalaman, dan jumlah batubara insitu. Daerah sumber daya ini ditentukan dari proyeksi ketebalan dan tanah penutup, rank, dan kualitas data dari titik pengukuran dan sampling berdasarkan bukti geologi dalam radius 0,4 km. Termasuk antrasit dan bituminus dengan ketebalan 35 cm atau lebih, sub bituminus dengan ketebalan 75 cm atau lebih, lignit dengan ketebalan 150 cm.
Penghitungan Sumber Daya
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghitung sumberdaya batubara di daerah penelitian. Pemakaian metode disesuaikan dengan kualitas data, jenis data yang diperoleh, dan kondisi lapangan serta metode penambangan (misalnya sudut penambangan). Karena data yang digunakan dalam penghitungan hanya berupa data singkapan, maka metode yang digunakan untuk penghitungan sumber daya daerah penelitian adalah metode Circular (USGS) (Gambar).
Penghitungan sumber daya batubara menurut USGS dapat dihitung dengan rumus
Tonnase batubara = A x B x C, dimana
A = bobot ketebalan rata-rata batubara dalam inci, feet, cm atau meter
B = berat batubara per stuan volume yang sesuai atau metric ton.
C = area batubara dalam acre atau hektar
Kemiringan lapisan batubara juga memberikan pengaruh dalam perhitungan sumber daya batubara. Bila lapisan batubara memiliki kemiringan yang berbeda-beda, maka perhitungan dilakukan secara terpisah.
Cadangan batubara (Coal Reserves) adalah bagian dari sumber daya batubara yang telah diketahui dimensi, sebaran kuantitas, dan kualitasnya, yang pada saat pengkajian kelayakan dinyatakan layak untuk ditambang.
Klasifikasi sumber daya dan cadangan batubara didasarkan pada tingkat keyakinan geologi dan kajian kelayakan. Pengelompokan tersebut mengandung dua aspek, yaitu aspek geologi dan aspek ekonomi.
Kelas Sumber Daya
1. Sumber Daya Batubara Hipotetik (Hypothetical Coal Resource)
Sumber daya batu bara hipotetik adalah batu bara di daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap penyelidikan survei tinjau.
Sejumlah kelas sumber daya yang belum ditemukan yang sama dengan cadangan batubara yg diharapkan mungkin ada di daerah atau wilayah batubara yang sama dibawah kondisi geologi atau perluasan dari sumberdaya batubara tereka. Pada umumnya, sumberdaya berada pada daerah dimana titik-titik sampling dan pengukuran serat bukti untuk ketebalan dan keberadaan batubara diambil dari distant outcrops, pertambangan, lubang-lubang galian, serta sumur-sumur. Jika eksplorasi menyatakan bahwa kebenaran dari hipotesis sumberdaya dan mengungkapkan informasi yg cukup tentang kualitasnya, jumlah serta rank, maka mereka akan di klasifikasikan kembali sebagai sumber daya teridentifikasi (identified resources).
2. Sumber Daya Batubara Tereka (inferred Coal Resource)
Sumber daya batu bara tereka adalah jumlah batu bara di daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap penyelidikan prospeksi.
Titik pengamatan mempunyai jarak yang cukup jauh sehingga penilaian dari sumber daya tidak dapat diandalkan. Daerah sumber daya ini ditentukan dari proyeksi ketebalan dan tanah penutup, rank, dan kualitas data dari titik pengukuran dan sampling berdasarkan bukti geologi dalam daerah antara 1,2 km – 4,8 km. termasuk antrasit dan bituminus dengan ketebalan 35 cm atau lebih, sub bituminus dengan ketebalan 75 cm atau lebih, lignit dengan ketebalan 150 cm atau lebih.
3. Sumber Daya Batubara Tertunjuk (Indicated Coal Resource)
Sumber daya batu bara tertunjuk adalah jumlah batu bara di daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap eksplorasi pendahuluan.
Densitas dan kualitas titik pengamatan cukup untuk melakukan penafsiran secara relistik dari ketebalan, kualitas, kedalaman, dan jumlah insitu batubara dan dengan alasan sumber daya yang ditafsir tidak akan mempunyai variasi yang cukup besar jika eksplorasi yang lebih detail dilakukan. Daerah sumber daya ini ditentukan dari proyeksi ketebalan dan tanah penutup, rank, dan kualitas data dari titik pengukuran dan sampling berdasarkan bukti gteologi dalam daerah antara 0,4 km – 1,2 km. termasuk antrasit dan bituminus dengan ketebalan 35 cm atau lebih, sib bituminus dengan ketebalan 75 cm atau lebih, lignit dengan ketebalan 150 cm.
4. Sumber Daya Batubara Terukur (Measured Coal Resourced)
Sumber daya batu bara terukur adalah jumlah batu bara di daerah peyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat–syarat yang ditetapkan untuk tahap eksplorasi rinci.
Densitas dan kualitas titik pengamatan cukup untuk diandalkan untuk melakukan penafsiran ketebalan batubara, kualitas, kedalaman, dan jumlah batubara insitu. Daerah sumber daya ini ditentukan dari proyeksi ketebalan dan tanah penutup, rank, dan kualitas data dari titik pengukuran dan sampling berdasarkan bukti geologi dalam radius 0,4 km. Termasuk antrasit dan bituminus dengan ketebalan 35 cm atau lebih, sub bituminus dengan ketebalan 75 cm atau lebih, lignit dengan ketebalan 150 cm.
Penghitungan Sumber Daya
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghitung sumberdaya batubara di daerah penelitian. Pemakaian metode disesuaikan dengan kualitas data, jenis data yang diperoleh, dan kondisi lapangan serta metode penambangan (misalnya sudut penambangan). Karena data yang digunakan dalam penghitungan hanya berupa data singkapan, maka metode yang digunakan untuk penghitungan sumber daya daerah penelitian adalah metode Circular (USGS) (Gambar).
|
Aturan Penghitungan Sumberdaya Batubara dengan Metode Circular (USGS) (Wood et al., 1983)
|
Tonnase batubara = A x B x C, dimana
A = bobot ketebalan rata-rata batubara dalam inci, feet, cm atau meter
B = berat batubara per stuan volume yang sesuai atau metric ton.
C = area batubara dalam acre atau hektar
Kemiringan lapisan batubara juga memberikan pengaruh dalam perhitungan sumber daya batubara. Bila lapisan batubara memiliki kemiringan yang berbeda-beda, maka perhitungan dilakukan secara terpisah.
1. Kemiringan 00 – 100
Perhitungan Tonase dilakukan langsung dengan menggunakan rumus Tonnase = ketebalan batubara x berat jenis batubara x area batubara
2. Kemiringan 100 – 300
Untuk kemiringan 100 – 300, tonase batubara harus dibagi dengan nilai cosinus kemiringan lapisan batubara.
Untuk kemiringan > 300, tonase batubara dikali dengan nilai cosinus kemiringan lapisan batubara.
Uji Mekanik Batubara
Selain analisis kimia, juga dilakukan sejumlah tes untuk menentukan parameter fisik batubara, seperti uji densitas relatif , distribusi ukuran partikel, dll.
1. Densitas relatif:
Densitas relatif batubara tergantung pada rank dan mineral pengotornya. Data densitas relatif diperlukan untuk membuat sampel komposit dalam menentukan banyaknya asap (seam). Selain itu diperlukan juga sebagai faktor penting dalam mengubah cadangan batubara dari unit volume menjadi unit massa.
Penentuan
dilakukan dengan menghitung banyaknya kehilangan berat pada saat
dicelupkan ke dalam air. Cara terbaik adalah dari data berat batubara
dengan menggunakan piknometer. Grafik di bawah ini memberikan hubungan
antara densitas relatif terhadap kandungan abu untuk batubara dan serpih
karbon di cekunagn Agades.
2. Distribusi Ukuran Partikel:
Distribusi
ukuran pertikal pada batubara yang rusak tergantung pada metode
penambangan, cara penanganannya, serta derajat perekahan material
tersebut. Distribusi ukuran merupakan faktor kritis yang dapat
menunjukkan bagian tumbuhan penyusunnya. Penentuan dilakukan dengan
metode ayakan. Grafik data pengeplotan menghasilkan data rata-rata
ukuran partikel dan derajat keseragaman partikel.
3. Uji Pengapungan (Float-sink testing):
Uji
ini dilakukan untuk menentukan distribusi densitas partikel sampel
dengan cara mencelupkan sampel batubara ke dalam larutan yang diketahui
densitas relatif. Selain itu dilakukan juga penelitian lain seperti
penghitungan energi spesifik.
Larutan
yang digunakan biasanya mempunyai densitas berkisar antara 1,3 – 2,0.
Campuran larutan organik ini antara lain tetrabromoethane (R.D.2,89),
perchlorethylene (R.D.1,60), dan Toluena (R.D.1,60) yang sering
digunakan karena viscositasnya rendah dan sifat pengeringan yang baik.
Grafik
yang diplot menunjukkan persentase material yang mengapung dan yang
tenggelam yang dihitung dalam basis kumulatif. Akhirnya dapat digunakan
untuk menentukan fraksi pengapungan dengan kandungan spesifik abu.
4. Uji Kerusakan Serpih (Shale breakdown test):
Ada beberapa
masalah pada saat ekstraksi batubara, misalnya akibat pengotor (abu,dll)
yang biasanya diakibat oleh hadirnya mineral lempung, contoh
montmorilonit pada komponen non-batubara. Jumlah shale breakdown didapat
dari proporsi material yang ditentukan dengan analisis sedimentasi
residu.
UJI LAINNYA UNTUK KARBONISASI
Karbonisasi adalah proses pemanasan batubara pada temperatur beberapa ratus derajat untuk menghasilkan material-material:
- Padatan yang mengalami pengayaan karbon yang disebut coke.
- Larutan yang merupakan campuran hidrokarbon “tar” dan amoniacal liquor.
- Hidrokarbon lain dalam bentuk gas yang didinginkam ke temperatur normal.
1. Free Swelling Index:
Tes ini dilakukan
untuk menentukan angka peleburan dengan cara memanaskan sejumlah sampel
pada temperatur peleburan normal (kira-kira 800°C). Setelah pemanasan
atau sampai semua semua volatile dikelurkan, sejumlah coke tersisa dari peleburan. Swelling number dipengaruhi oleh distribusi ukuran partikel dan kecepatan pemanasan.
2. Tes karbonisasi Gray-King dan tipe coke:
Tes Gray-King
menentukan jumlah padatan, larutan dan gas yang diproduksikan akibat
karbonisasi. Tes dilakukan dengan memenaskan sampel didalam tabung
tertutup dari temperatur 300°C menjadi 600°C selama 1 jam untuk
karbonisasi temperatur rendah atau dari 300°C menjadi 900°C selama 2 jam
untuk karbonisasi temperatur tinggi.
3. Tes Karbonisasi Fischer:
Prinsipnya sama
dengan metode Gray-King, perbedaan terletak pada peralatan dan kecepatan
pemanasan. Pemanasan dilakukan di dalam tabung alumunium selama 80
menit. Tar dan liquor dikondensasikan ke dalam air dingin.
Akhirnya didapatkan persentase coke, tar dan, air sedangkan jumlah gas
didapat dengan cara mengurangkannya. Tes Fischer umum digunakan untuk
batubara rank rendah (brown coal dan lignit) untuk karbonisasi temperatur rendah.
Data perbandingan Tes Gray-King dan Fischer:
4. Plastometer Gieseler:
Plastometer
Gieseler adalah viskometer yang memantau viscositas sampel batubara yang
telah dileburkan. Dari tes ini direkam data-data sbb:
- Initial softening temperature.
- Temperatur viscositas maksimum
- Viskositas maksimum.
- Temperatur pemadatan resolidifiation temperatur.
5. Indeks Roga:
Indeks Roga menyatakan caking capacity. Ditentukan dengan cara memanaskan 1 gram sampel batubara yang dicampur dengan 5 gram antrasit pada 850°C selama 15 menit.
6. Tes lain yang dilakukan:
Biasanya dilakukan untuk menentukan:
- Komposisi kimia (analisis proksimat, total belerang, analisis abu,dll)
- Parameter fisik (distribusi ukuran, densitas relatif)
- Uji kekuatan.
- Tes Metalurgi.
Asal-usul Peat (Gambut)
Asal-usul Peat (Gambut)
Lapisan batubara umumnya berasal dari peat(gambut) deposit di suatu rawa. Faktor-faktor penting dalam pembentukkan peat:
- Evolusi perkembangan flora
- Iklim
- Geografi dan struktur daerah
Evolusi Perkembangan Flora
Batubara tertua yang berumur Hurorian Tengah dari Michigan berasal dari alga dan fungi. Sedangkan pada jaman Devon
Bawah dan Atas, batubara kebanyakan berasal dari Psilophites (spt:
Taeniocrada decheniana (lower devon)). Kebanyakan batubara dari jaman ini memiliki rata-rata lapisan yang tipis(3-4m) dan tidak punya nilai ekonomis.
Pada Carbon
Atas, tumbuhan mulai tinggi-tinggi hingga mencapai ketinggian lebih
dari 30m namun belum seberagam sekarang. Pada jaman ini didominasi oleh:
Lepidodendron, Sigillaria, Leginopteris oldhamia, Calamitea. Jaman
Upper Carboniferous dikenal sebagai perioda bituminous coal.
Lapisan penting batubara berumur Perm terdapat di USSR, dominan terbentuk dari Gymnosperm cordaites.
Pada jaman
Mesozoic terutama Jura dan Cretaceous Bawah, Gymnosperm(Ginkcophyta,
Cycadophyta dan Cornifers) merupakan tumbuhan penting pembentuk
batubara, terutama di Siberia dan Asia Tengah.
Pada rawa-rawa
berumur Cretaceous Atas dan Tersier tumbuhan Angiosperm tumbuh dengan
pesat di N. America, Europe, Japan dan Australia.
Jika dibandingkan dengan tumbuhan pada masa Carbon, tumbuhan pada jaman Mesozoic terutama jaman Tersier lebih beragam dan spesifik serta menghasilkan deposit peat yang tebal dan beragam dalam tipe fasiesnya.
Perkembangan dan evolusi flora akan berpengaruh pada keragaman jenis dan tipe batubara yang dihasilkan.
Iklim
Pada iklim yang
lebih hangat dan basah tumbuhan tumbuh lebih cepat dan beragam.
Lapisan-lapisan kaya batubara berumur Carbon Atas, Cretaceous Atas dan
Tersier Awal diendapkan pada iklim seperti ini. Namun pada hemisphere
selatan dan Siberia juga terdapat endapan batubara yang kaya yang
diendapakan pada iklim yang sedang hingga dingin, contohnya batubara
inter-post glacial PermoCarbon Gondwana (dari Ganganopteris glossopteris) dan batubara umur Perm dan Jura Bawah dari Angara konitnen.
Lapisan batubara
yang diendapkan pada iklim hangat dan basah biasanya lebih terang dan
tebal dibandingkan dengan yang diendapkan pada iklim basah.
Paleogeografi dan Tectonic Requirement
Formasi lapisan
tergantung pada hubungan paleogeografi dan struktur pada daerah
sedimentasi. Pembentukan peat(gambut) terjadi pada daerah yang depresi permukaan
dan memerlukan muka air yang relatif tetap sepanjang tahun diatas atau
minimal sama dengan permukaan tanah. Kondisi ini banyak muncul pada flat
coastal area dimana banyak rawa yang berasosiasi dengan persisir
pantai. Selain itu rawa-rawa juga muncul di darat(shore or inland
lakes). Tergantung pada posisi asli geografinya, endapan batubara
paralic(sea coast) dan limnic(inland) adalah berbeda.
Paralic coal
swamps memiliki sedikit pohon atau bahkan tanpa pohon dan terbentuk
diluar distal margin pada delta. Pembentukkannya merupakan akibat dari
regresi dan transgresi air laut. Banyak coastal swamps besar yang
berkembang dibawah perlindungan sand bars dan pits sehingga dapat
menghasilkan endapan batubara yang tebal.
Back samps terbentuk dibelakang tanggul alam sungai besar. Pada back swamps,
peats(gambut) kaya dengan mineral matter akibat banjir yang sering
terjadi. Peat deposits hanya dapat terawetkan pada daerah subsidence.
Akibatnya endapan yang kaya batubara banyak berhubungan dengan daerah
ini, seperti yang sering muncul pada foredeep pada suatu pegunungan
lipatan yang besar.
Sikuen sediment
yang tebal dimana didalamnya terdapat lapisan tipis batubara(<2m)
dengan penyebaran yang besar dan keberadaan intercalation dari marine
bed adalah karakteristik dari batubara yang diendapkan di foredeeps dari
suatu pegunungan lipatan yang besar. Cyclothem adalah perulangan antara
peat dengan inorganic sediment dan sekuen ini sering berulang.
Pada bagian
backdeeps dari suatu pegunungan lipatan yang besar, subsidence biasanya
lebih sedikit dan jumlah lapisan batubara lebih sedikit. Ketika
paralic coals diendapkan di foredeeps, kebanyakan limnic coals
diendapkan di dalam cekungan kontinen yang besar. Limnic coals memiliki
karakter: terbentuk pada kontinen graben, jumlah lapisannya sedikit tapi
setiap lapisannya sangat tebal.
Langganan:
Postingan (Atom)



